Jumat, 02 Agustus 2013

Suka Duka ngaBlogburit bagi seorang Ibu Rumah Tangga


Bagi saya yang notabene baru belajar menulis, ajang ngaBlogburit ini merupakan sebuah tantangan yang sangat menarik. Betapa tidak dalam jangka waktu tiga jam saja kita ditantang untuk mengkreasikan kata menjadi sebuah tulisan yang menarik. Bagi saya yang masih pemula, itu cukup sulit memang, otak ini  belum terbiasa menelurkan ide-ide dalam waktu yang singkat. Yang sering terjadi justru buntu, buntu, dan buntu lagi. Kadang untuk membuat satu paragraf saja butuh waktu sampai setengah jam, lama banget kan hehe? Belum lagi peserta-peserta lain yang hebat-hebat. Membaca tulisan mereka membuat saya terkagum-kagum, sekaligus ngeper juga hehe. Tapi dari tulisan Beliau-Beliau saya bisa banyak belajar tentang penulisan pluss menambah wawasan. Hal inilah salah satu yang membuat saya terus antusias belajar menulis.



Mengikuti ngaBlogburit bukannya tanpa kendala. Sebagai ibu rumah tangga saya harus pintar-pintar memutar akal, bagaimana caranya supaya bisa mencuri waktu agar bisa mengikuti ngaBlogburit, namun juga tetap bisa menyiapkan makanan berbuka untuk suami. Kadang sambil memasak, saya sambil mencari-cari ide tulisan. Setelah menemukan ide, dapur saya tinggalkan sejenak, berlari menuju laptop, kemudian jari saya pun menari-nari indah di atas keyboard. Namun begitu ide di kepala serasa buntu, saya kembali ke dapur melanjutkan memasak. Begitu menemukan ide lagi, saya pun kembali menuju laptop. Begitu seterusnya. Bolak-balik antara laptop dan dapur. Kadang, berhubung waktu sudah hampir habis, tulisan seadanya dan pas-pasan pun tetap saya posting dengan pede hehe.

Rabu, 31 Juli 2013

Pengesahan UU BPJS : Transformasi Jamsostek Menuju Sistem Jaminan Sosial Universal


Pengesahan UU BPJS pada 28 Oktober 2011 lalu menumbuhkan harapan akan datangnya jaminan sosial yang lebih baik bagi kalangan pekerja terutama buruh. Menjadi sebuah angin segar di tengah banyaknya kasus ketidakadilan yang sering dialami para pekerja. Selama ini banyak perusahaan nakal yang tidak mengikutsertakan pekerjanya dalam Jamsostek meskipun UU telah mewajibkan para pengusaha. Akibatnya, banyak pekerja tidak mendapatkan asuransi yang mampu melindungi mereka manakala mengalami kecelakaan kerja, kematian, hari tua, ataupun pensiun.

Sekarang, setelah UU BPJS resmi disahkan, terjadi sebuah transformasi yang sangat signifikan. Dimana jenis kepesertaan jaminan sosial telah berubah menjadi wajib. Seseorang tidak bebas untuk menentukan apakah ia akan menjadi peserta atau tidak dalam program jaminan sosial yang ditentukan Undang-undang. Melainkan wajib menjadi peserta. Demikian pula BPJS tidak dapat memilih siapa yang diterima atau tidak diterima menjadi peserta yang akan ditanggungnya.

Jumat, 26 Juli 2013

Lebih Penting Mana, Baju Baru Atau Hati Yang Baru ?

Lebaran harus identik dengan baju baru, sepertinya sudah menjadi tradisi yang "salah kaprah" di negeri kita ini. Lebaran serasa kurang afdol kalau nggak pake baju baru, sepatu baru, perhiasan baru, mukena baru, pokoknya penampilan yang serba baru dech. Kadang, yang lebih mirisnya lagi acara halal bihalal lebaran justru menjadi ajang untuk show up, berlomba-lomba pamer keduniawian. Kita seolah lupa apa hakikat dan esensi sebenarnya dari Ramadhan dan Lebaran. Idealnya, setelah sebulan "digojlog" oleh Alloh SWT di bulan penuh berkah ini ditempa untuk berlatih melakukan berbagai kebaikan, seharusnya menghasilkan output insan-insan dengan hati baru yang suci dan penuh kebaikan.




Tradisi Lebaran VS Globalisasi
Globalisasi ibarat pedang bermata dua, di satu sisi bisa membuka cakrawala berfikir mendunia. Namun, di sisi lain bisa menggerus nilai-nilai akar budaya bangsa menuju life style kebarat-baratan yang hedonis. Tradisi lebaran yang dulunya sarat dengan nilai kebersamaan bersahaja dalam keluarga, menjadi bergeser mengikuti zaman. Kita seolah dipaksa mau tidak mau untuk beradaptasi dengan pergeseran nilai yang terjadi. Lebaran yang menurut cerita orang-orang dulu "cukup" dilewati dengan kebersamaan dalam keluarga yang penuh kebersahajaan, sekarang sudah berubah drastis. Bahkan sekarang lebaran bisa menjadi "beban sosial" tersendiri, memikirkan bagaimana kita harus tampil sebaik mungkin saat halal bihalal lebaran, status sosial dan tingkat kemapanan seseorang seperti tengah diuji dalam ruang lingkup sosialnya.

Selasa, 16 Juli 2013

Kaderisasi Anak Pada Usia Golden Age Menuju Indonesia Lebih Baik


Kalau harus jujur, Indonesia saat ini tengah dalam krisis kebangsaan yang sangat serius. Problem sosial, masalah kesenjangan dan kesejahteraan menjadi masalah menahun yang terpampang nyata di negeri ini. Mirisnya, kebanyakan dari pemimpin kita yang diharapkan bisa menjadi solusi problem bangsa, entah mengapa justru sibuk untuk kepentingan pribadinya sendiri. Indonesia seolah tengah mengalami kemunduran dalam karakter dan kepribadian anak bangsa, sebuah krisis generasi yang mengglobal.

Keistimewaan Perkembangan Anak Pada Usia Golden Age
Bayi-bayi yang baru lahir tak ubahnya seperti sebuah kertas putih dan suci. Pada generasi-generasi baru inilah tersimpan harapan besar akan adanya Indonesia yang lebih baik di masa depan. Pemahaman dan penanaman nilai-nilai moral yang baik akan lebih efektif jika ditanamkan sejak dini. Menurut para ahli, pada usia 0-5 tahun (Golden Age) anak mengalami fase tumbuh kembang yang sangat signifikan. Pada usia ini otak anak mampu menyerap informasi yang sangat tinggi. Informasi sekecil apapun akan berdampak besar bagi masa depannya di kemudian hari. Di masa inilah momen terbaik bagi para orangtua untuk membentuk karakter dan kepribadian anak. Pada periode golden age, anak mengalami lompatan kemajuan luar biasa baik secara fisiologis, psikis maupun sosialnya. Mereka sangat potensial untuk belajar apa saja. Termasuk berbagai nilai-nilai moral yang luhur. Namun, periode ini juga masa yang kritis. Anak juga mudah menerima dan menyerap nilai-nilai globalisasi yang tak selalu baik. Beberapa bahkan sangat bertentangan dan mengikis nilai-nilai luhur budaya bangsa. Pada konteks ini, kita dihadapkan pada sebuah pertempuran nilai : nilai-nilai moral yang luhur VS globalisasi. Persaingan yang sangat ketat karena globalisasi hadir melalui cara-cara yang kreatif dan menyenangkan. Oleh karenanya sebagai orangtua kita harus bisa lebih kreatif dalam menanamkan nilai-nilai moral yang baik kepada anak dengan cara-cara yang fun.

Kamis, 31 Januari 2013

Optimalisasi Industri Gula Nasional : Persiapan Menuju Indonesia Negara Ekonomi Kuat Dunia di Tahun 2030




2030 Indonesia Menjadi Negara Ekonomi Kuat Dunia
BRIC adalah akronim yang dipopulerkan oleh Goldman Sachs Group, merujuk pada empat negara calon kekuatan ekonomi baru dunia pada 2020. BRIC kepanjangan dari Brazil, Rusia, India dan China. Total produk domestik bruto (PDB) BRIC diperkirakan mencapai US$30,2 triliun atau melampaui PDB tujuh negara industri maju (G-7) pada 2027. Bahkan, BRIC akan menjadi kekuatan ekonomi paling dominan pada 2050. Namun, BRIC dianggap belum mencerminkan potensi kekuatan ekonomi yang lebih luas, termasuk sejumlah negeri berkembang. Untuk mengakomodasinya, Goldman Sachs membuat istilah baru, yaitu Next 11. Mencakup Indonesia, Turki, Korea Selatan, Meksiko, Iran, Nigeria, Mesir, Filipina, Pakistan, Vietnam dan Bangladesh.

Morgan Stanley malah mengusulkan tambahan Indonesia pada BRIC menjadi BRICI. Alasannya, dalam lima tahun ke depan, lembaga terkemuka ini memperkirakan PDB Indonesia bakal mencapai US$800 miliar. Senada dengan itu, majalah bergengsi The Economist, pada Juli 2010 juga memasukkan Indonesia sebagai calon kekuatan ekonomi baru pada 2030 di luar BRIC. The Economist mengenalkan akronim baru dengan sebutan CIVETS, kepanjangan dari Colombia, Indonesia, Vietnam, Egypt, Turkey dan South Africa. The Economist memperkirakan PDB enam negara ini rata-rata akan tumbuh 4,5 persen per tahun selama 20 tahun ke depan. Kemunculan CIVETS akan mempercepat pergeseran ekonomi global ke wilayah Timur dan Selatan.

Rabu, 30 Januari 2013

Lomba Foto Dan Karya Tulis Ancol 2013 Hadiah Total 250 Juta

Mengawali tahun 2013, PT Pembangunan Jaya Ancol, Tbk (PJA), perusahaan pengembang kawasan wisata terpadu Ancol Taman Impian menggelarLomba Foto dan Karya Tulis Ancol 2013 berhadiah total Rp 250 juta lebih. Mengambil tema “Mewujudkan Ancol Sebagai Ikon Wisata Edukasi”, lombaini terbuka untuk diikuti kalangan pelajar (SMP dan SMA), khalayak umum (mahasiswa dan kalangan profesional), dan wartawan. 


Khusus untuk pelajar, mahasiswa, serta kalangan profesional, karya foto yang dapat dilombakan merupakan foto yang diambil selama periode 16 Januari 2012 - 28 Februari 2013. Karya foto harus mengenai objek atau kegiatan di dalam lingkungan Ancol Taman Impian dan paling lambat sudah diterima panitia pada 15 Maret 2013.

Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance Bukune

Segera wujudkan mimpimu menjadi penulis muda berbakat! Ikutilah lomba menulis novel Teen & Young Adult Romance yang diselenggarakan oleh Bukune.

1. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia, dengan panjang naskah 60—150 halaman A4, 1 spasi, 12 pt, Times New Roman.

2. Naskah merupakan karya asli, bukan terjemahan atau saduran, dengan kategori novel romantis untuk remaja dan dewasa muda. 

3. Elemen utama yang dikedepankan dalam Lomba Menulis Novel Teen & Young Adult Romance Bukune adalah jalinan hubungan cinta dan kisah romantis antara dua tokoh utama dengan konflik-konflik yang mereka hadapi, tetapi tentunya tidak klise. Cerita berlatar dunia sekolah, kuliah, atau dunia kerja dengan usia tokoh berkisar 17—25 tahun.

Jumat, 25 Januari 2013

ANCOL : Rekreasi dan Semangat Mengangkat Aset Kebanggaan Bangsa



Oleh Retno Arieswanti Hapsarini

Masih segar dalam ingatan saya, bagaimana semangatnya semua bangsa Indonesia bersatu padu mendukung Timnas kesayangan kita yang tengah berjuang mengharumkan nama bangsa di ajang piala AFF. Sebuah semangat kebangsaan yang begitu dahsyat. Seluruh bangsa ini seolah melebur menjadi satu. Tidak ada lagi unsur pembeda yang bisa berbicara, yang ada hanyalah semangat kebersamaan membela harga diri bangsa melalui kebanggaan di bidang prestasi sepak bola. Sejenak, diri ini pun berandai-andai, membayangkan seandainya kedahsyatan semangat kebangsaan itu juga diimplementasikan pada bidang-bidang yang lain? Tentu akan bisa mengalahkan berbagai kendala yang seringkali menghambat proses kemajuan bangsa ini. Perjuangan 240 juta rakyat yang bersatu padu, tentu jauh lebih dahsyat jika dibandingkan perjuangan parsial segelintir orang bukan?

Jumat, 11 Januari 2013

Cinta Produk Dalam Negeri : Antara Semangat Nasionalisme dan Pergeseran Life Style Anak Bangsa



Perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi telah berhasil mengubah tatanan hidup bermasyarakat secara umum terutama dalam hal pemerataan informasi. Sebuah “keadilan informasi” pun telah berhasil terciptakan, yang kemudian menjadi dasar berkembangnya berbagai potensi manusia. Transfer-transfer informasi yang sampai pada otak bisa membentuk mindset seseorang, menjadi ruhnya dalam berfikir, berencana, dan bertindak. Keadaan ideal yang bermuara pada sebuah kesadaran akan terbukanya berbagai kesempatan untuk mengembangkan diri secara maksimal.


Salah satu primadona teknologi informasi adalah ponsel. Jumlahnya selalu meningkat dari tahun ke tahun. Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) melansir pada akhir 2010 saja jumlah ponsel di Indonesia sudah mencapai 225 juta. Dengan pertambahan sekitar 2 juta per bulan, maka diperkirakan saat ini Agustus 2011 jumlah ponsel di Indonesia sudah melebihi jumlah populasi penduduk. Sebuah peluang yang sangat menjanjikan bagi para pelaku bisnis di bidang ini. Namun sayang, pasar yang begitu besar dan menjanjikan, pada kenyataannya justru lebih didominasi oleh produk-produk luar negeri.

Mengacu pada video rekaman acara televisi yang diunggah di youtube (di alamat http://tlg3.sampe.in), ternyata mayoritas ponsel yang digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah buatan luar negeri. Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Salah satunya, faktor life style bangsa ini yang tengah terus bergeser berkiblat ke luar. Derasnya arus globalisasi yang tidak diimbangi dengan penguatan akar mentalitas jati diri bangsa, semakin mendukung pergeseran karakteristik ketimuran kita. Dibilang ketinggalan jaman kalau enggak “gaul”. Sedangkan definisi gaul di sini lebih kepada life style yang berkiblat ke luar. Gaya hidup ala orang luar, cara bergaul ala orang luar, pun termasuk memakai bermacam barang dengan label buatan luar negeri.

Kamis, 21 April 2011

Tidak Bisa Disebut Menghianati Cita-Cita KARTINI, Jika Seorang Perempuan Memilih Hanya Menjadi Ibu Rumah Tangga Rumahan Yang Berpenghasilan


Oleh Retno Arieswanti Hapsarini

Menjelang tanggal 21 April peringatan hari Kartini, gaung emansipasi terasa semakin kencang dihembuskan. Isu kesetaraan gender dan persamaan hak menjadi topik yang sangat hangat diperbincangkan. Sangat wajar memang, sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa seorang pendobrak bernama R.A Kartini, yang telah berhasil menjadikan para perempuan Indonesia sekarang ini bisa mengenyam pendidikan yang layak, juga bisa berperan dan berkarya dalam berbagai bidang, seperti halnya kaum laki-laki.


Perempuan dan Teknologi
Perkembangan Teknologi Informasi dan Telekomunikasi telah berhasil mengubah tatanan hidup bermasyarakat secara umum terutama dalam hal pemerataan informasi. Sebuah “Keadilan informasi” pun telah berhasil terciptakan, yang kemudian menjadi dasar berkembangnya berbagai potensi manusia. Transfer-transfer informasi yang sampai pada otak bisa membentuk mindset seseorang, menjadi ruhnya dalam berfikir, berencana dan bertindak. Keadaan ideal yang bermuara pada sebuah kesadaran akan terbukanya berbagai kesempatan untuk mengembangkan diri secara maksimal. Dalam hal ini segmen mayoritas yang menemukan momentum kebangkitannya adalah kaum perempuan.

Berbicara tentang teknologi informasi dan telekomunikasi tidak akan lepas dengan apa yang dinamakan internet. Berdasarkan data APJII tahun 2010 pengguna Internet di Indonesia mencapai 45 juta orang. Sedangkan BOSTON mengeluarkan sebuah prediksi yang sangat mencengangkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia dan empat negara lainnya Brazil, Russia, India, China diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2015. Boston Consulting Group memprediksi jumlah pengguna internet di lima negara tersebut akan mencapai 1,2 miliar orang pada 2015. Wow, Sungguh fantastis bukan?

Kemajuan teknologi informasi telah berhasil memfasilitasi kaum perempuan untuk bangkit dalam berbagai bidang. Terutama dalam hal peningkatan kualitas diri. Berfungsi sebagai sarana belajar yang efektif. Khususnya bagi sebagian perempuan Indonesia yang dikarenakan kendala tertentu sehingga tidak beruntung merasakan bangku pendidikan. Teknologi informasi berhasil membuka sekat-sekat kendala yang telah membelenggu mereka selama ini. Internet dengan segala kemudahan dan kecanggihannya sangat mendukung perempuan untuk belajar tentang banyak hal, di mana saja, setiap saat, sepanjang waktu. Hal ini sangatlah penting dan krusial, sebab bisa menjadi modal utama bagi perempuan guna mencetak generasi penerus bangsa yang beriman, unggul dan berkualitas.


Keseimbangan antara Peran Publik dan Domestik
Di tengah boomingnya isu emansipasi, ada juga kaum perempuan yang masih berpegang teguh pada pendirian bahwa keberlangsungan kebahagiaan utuh rumah tangga harus tetap diprioritaskan. Dan hal itu mau tidak mau mengarah pada keharusan perempuan menjalankan fungsi terbaiknya sebagai seorang istri sekaligus ibu. Mungkin pepatah-pepatah ini yang menjadi dasar pemikiran para perempuan golongan di atas, “Jika kau mendidik seorang laki-laki, itu berarti kau mendidik seorang individu, tapi jika kau mendidik seorang perempuan, itu berarti kau mendidik seluruh keluarga”. Dan pepatah lainnya mengatakan bahwa, “Di balik kesuksesan seorang pria, selalu ada sosok perempuan hebat di belakangnya”. Kedua pepatah itu, mengisyaratkan betapa penting peran seorang perempuan dalam keluarga, yaitu mengantarkan suami dan anak-anaknya menuju gerbang kesuksesan.

Dulu, mungkin hal tersebut akan menjadi sebuah dilema. Memilih antara peran publik atau peran domestik? Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi sekarang ini, kedua peran tersebut bisa dijalankan secara seimbang. Ngetrennya sering disebut sebagai Full Time Mom (FTM) yang berpenghasilan. Kemajuan teknologi informasi khususnya internet telah membuka peluang besar bagi para FTM bisa tetap berpenghasilan fantastis, sembari terus mencurahkan sebagian besar waktu dan perhatiannya untuk suami dan anak-anak tercinta.

Bisnis online, penghasilan dari SEO Blog, reward kompetisi menulis, beraneka ragam kuis, dll, bisa menjadi alternatif pilihan bagi FTM tetap mandiri secara finansial. Berkat kemajuan teknologi, kaum perempuan sudah bisa dengan bangga menyuarakan “Say Yes to Full Time Mom”. Toh, rata-rata dari mereka memutuskan hal tersebut bukan karena tidak mampu bekerja kantoran, melainkan pilihan yang datang dari ketulusan hati. Pilihan jenis ini, kini sudah menjadi sebuah smart choice, mempunyai banyak waktu untuk suami dan anak-anak, sekaligus berpenghasilan fantastis. Sangat perfect bukan?

Lalu bagaimana dengan peran publiknya? Bukankah sebagai manusia kita tentu memiliki keinginan naluriah untuk berguna bagi sesama? Dengan menjadi Full Time Mom apakah bisa menjalankan peran tersebut? Jawabannya : Bisa! Sangat Bisa! Kemajuan teknologi informasi khususnya internet sangat memungkinkan semua itu. Era Go Blogging, membuka kesempatan kepada siapa saja, di mana saja, laki-laki ataupun perempuan, dengan background apapun, untuk berkarya dan menuangkan segala ide-ide briliantnya lewat media tulisan di blog.

Tulisan yang bagus bisa menjadi “racun”, menginspirasi, dan menghipnotis pembacanya. Salah satu kedahsyatan tulisan bisa kita lihat dari fenomena Laskar Pelangi. Bagaimana dari sebuah tulisan bernas Andrea Hirata bisa menghipnotis jutaan anak bangsa untuk mulai berani bermimpi besar. Kasus Andrea ini, bisa menjadi salah satu acuan para Full Time Mom, untuk lebih semangat dalam menulis dan berkarya. Bayangkan, jika tulisan kita bisa sesukses Laskar Pelangi, yang menghasilkan royalty milyaran rupiah. Wow! Menginspirasi positif sekaligus menjadi tambang uang. Ehmmm siapa yang tidak mau coba?

Full Time Mom memiliki banyak waktu luang di rumah, relatif lebih mudah berkonsentrasi untuk melahirkan tulisan-tulisan yang dahsyat. Sebuah tulisan yang “matang”, berasal dari hati, hasil proses kerja kreatif yang panjang, tidak sekedar memenuhi target deadline, biasanya lebih punya roh dan memiliki kekuatan tersendiri. Di sinilah salah satu letak keuntungan penulis yang notabene Full Time Mom.


Full Time Mom dan Cita-Cita Kartini
Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya (Suratnya kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula. (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)

Dari penggalan isi kedua surat Kartini di atas, dapat disimpulkan bahwa salah satu nilai yang ingin diperjuangkan Kartini untuk kaumnya adalah kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan serta prinsip kemandirian perempuan. Jika dikaitkan dengan perempuan yang memutuskan menjadi Full Time Mom, hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan cita-cita Kartini. Dalam hal ini peranan kemajuan teknologi kembali terlihat, karena telah menjembatani antara keduanya.

Full Time Mom, masih sangat bisa untuk terus belajar meningkatkan kualitas dirinya secara terus-menerus lewat media kemajuan teknologi. Bukan lagi melalui media belajar konvensional yaitu lewat bangku pendidikan, melainkan lewat internet, yang bisa dikatakan seperti kantong ajaib Dora Emon, yang bisa menfasilitasi perempuan untuk belajar tentang apapun, kapanpun, dan dimanapun. Begitu halnya dengan masalah kemandirian. Dengan teknologi, perempuan bisa bekerja dari rumahnya sendiri, menjadi mandiri secara finansial, sambil terus mencurahkan sebagian besar waktu dan perhatiannya untuk keluarga. Cita-Cita Kartini Oke, Menjadi Super Full Time Mom Yes!