Tampilkan postingan dengan label ngaBLOGburit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ngaBLOGburit. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 Agustus 2013

Suka Duka ngaBlogburit bagi seorang Ibu Rumah Tangga


Bagi saya yang notabene baru belajar menulis, ajang ngaBlogburit ini merupakan sebuah tantangan yang sangat menarik. Betapa tidak dalam jangka waktu tiga jam saja kita ditantang untuk mengkreasikan kata menjadi sebuah tulisan yang menarik. Bagi saya yang masih pemula, itu cukup sulit memang, otak ini  belum terbiasa menelurkan ide-ide dalam waktu yang singkat. Yang sering terjadi justru buntu, buntu, dan buntu lagi. Kadang untuk membuat satu paragraf saja butuh waktu sampai setengah jam, lama banget kan hehe? Belum lagi peserta-peserta lain yang hebat-hebat. Membaca tulisan mereka membuat saya terkagum-kagum, sekaligus ngeper juga hehe. Tapi dari tulisan Beliau-Beliau saya bisa banyak belajar tentang penulisan pluss menambah wawasan. Hal inilah salah satu yang membuat saya terus antusias belajar menulis.



Mengikuti ngaBlogburit bukannya tanpa kendala. Sebagai ibu rumah tangga saya harus pintar-pintar memutar akal, bagaimana caranya supaya bisa mencuri waktu agar bisa mengikuti ngaBlogburit, namun juga tetap bisa menyiapkan makanan berbuka untuk suami. Kadang sambil memasak, saya sambil mencari-cari ide tulisan. Setelah menemukan ide, dapur saya tinggalkan sejenak, berlari menuju laptop, kemudian jari saya pun menari-nari indah di atas keyboard. Namun begitu ide di kepala serasa buntu, saya kembali ke dapur melanjutkan memasak. Begitu menemukan ide lagi, saya pun kembali menuju laptop. Begitu seterusnya. Bolak-balik antara laptop dan dapur. Kadang, berhubung waktu sudah hampir habis, tulisan seadanya dan pas-pasan pun tetap saya posting dengan pede hehe.

Jumat, 26 Juli 2013

Lebih Penting Mana, Baju Baru Atau Hati Yang Baru ?

Lebaran harus identik dengan baju baru, sepertinya sudah menjadi tradisi yang "salah kaprah" di negeri kita ini. Lebaran serasa kurang afdol kalau nggak pake baju baru, sepatu baru, perhiasan baru, mukena baru, pokoknya penampilan yang serba baru dech. Kadang, yang lebih mirisnya lagi acara halal bihalal lebaran justru menjadi ajang untuk show up, berlomba-lomba pamer keduniawian. Kita seolah lupa apa hakikat dan esensi sebenarnya dari Ramadhan dan Lebaran. Idealnya, setelah sebulan "digojlog" oleh Alloh SWT di bulan penuh berkah ini ditempa untuk berlatih melakukan berbagai kebaikan, seharusnya menghasilkan output insan-insan dengan hati baru yang suci dan penuh kebaikan.




Tradisi Lebaran VS Globalisasi
Globalisasi ibarat pedang bermata dua, di satu sisi bisa membuka cakrawala berfikir mendunia. Namun, di sisi lain bisa menggerus nilai-nilai akar budaya bangsa menuju life style kebarat-baratan yang hedonis. Tradisi lebaran yang dulunya sarat dengan nilai kebersamaan bersahaja dalam keluarga, menjadi bergeser mengikuti zaman. Kita seolah dipaksa mau tidak mau untuk beradaptasi dengan pergeseran nilai yang terjadi. Lebaran yang menurut cerita orang-orang dulu "cukup" dilewati dengan kebersamaan dalam keluarga yang penuh kebersahajaan, sekarang sudah berubah drastis. Bahkan sekarang lebaran bisa menjadi "beban sosial" tersendiri, memikirkan bagaimana kita harus tampil sebaik mungkin saat halal bihalal lebaran, status sosial dan tingkat kemapanan seseorang seperti tengah diuji dalam ruang lingkup sosialnya.